Sepak Bola

Kadang saya sangat terganggu oleh satu pertanyaan yang selalu saja datang dipikiran saya, pertanyaan itu sungguh pertanyaan yang tidak ilmiah, tidak penting, tidak luar biasa, ya …pertanyaan yang biasa biasa saja dan amat sangat sederhana sebenarnya, tapi juga boleh dibilang wajar untuk dijawab…atau juga, tidak usah dijawab…tidak apa apa dan tidak akan berpengaruh apa apa.

Pertanyaan itu adalah……”Apakah bangsa Indonesia ini bisa maen sepak bola, enggak ya ?”

Sebagai bangsa yang besar dalam arti teritorial maupun jumlah penduduk, Indonesia sebenarnya mempunyai sejarah yang panjang tentang sepak bola, ketika pada olimpiade tahun 1955, Indonesia bisa menahan imbang Uni Sovyet 0-0, juga bisa mengalahkan beberapa negara2 besar di Asia, pada waktu itu boleh dibilang Indonesia adalah salah satu “macan bola” Asia yang sangat diperhitungkan, nah berdasarkan pengalaman tersebut lantas, mengapa Macan tersebut bisa jadi sangat “ompong” seperti sekarang ini, yang bisa “dibantai” Malaysia berturut turut, dari tahun ke tahun pertandingan, baik Seagame, Olimpiade juga Pra-piala dunia ?, wahai para sesepuh negeri nun jauh disana, mengapa kalian cuman mangut mangut aja, apa sudah hilang akal, hilang upaya, hilang semangat ? untuk bisa bikin sedikit bangga, bangsa yang super besar ini, dimana nyali serta kekuatanmu itu ?

Diwarung kopi, di cafe2 atau dimana saja di seantero negeri, orang selalu ngobrol ngalor ngidul dan “tanya jawab”pun terjadi, seperti misalnya : ….euy..gimana itu hasil pertandingan sepak bola antara Team Garuda Muda Indonesia melawan Team Harimau Muda Malaysia ?…..wah..hebat tuh Malaysia….. menang lagi…..oh jadi Indonesia kalah lagi…..ya begitulah……tapi kan itu mah biasa….ya memang sih….rasa rasanya “aneh” juga ya kalo Indonesia bisa menang lawan Malaysia….kan kita sudah biasa kalah….jadi biasa biasa aja tuh…..ah bisa aja kamu…….ya gitu deh…masa “luar biasa”…..padahal kan modalnya  juga biasa biasa aja…..masa hasilnya mau luar biasa….oh sukurlah kalo begitu…..jadi semua biasa aja ya….ya iya lah….masa iya iya dong…..!!….dst…dst…..

Tapi, walaupun demikian, two tumb up and maximum respect to Rahmad Dharmawan, couch yang satu ini cukup “cool” dan bisa jadi harapan, so…. go and get it, time is just about right to start…..breakalage..!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ada apa gerangan dengan KTKLN ?

Hingar bingar KTKLN semakin mirip bola salju, menggelinding kebawah bertambah besar, melaju kencang, menggerus permukaan, menggulung semua yang ada dibawah, semua orang teriak, ada yang memaki, ada yang sumpah serapah malah ada juga yang hanya manggut manggut, ibarat kambing berjenggot yang mulai udzur.

Ada apa gerangan dengan Tenaga Kerja Indonesia yang berstatus Buruh Migran ?
Ada apa gerangan dengan Badan Nasional Pengawasan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ?
Ada apa gerangan dengan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia ?
Kemudian,
Dimanakah gerangan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia ?
Dimanakah gerangan Mahkamah Konstitusi Indonesia ?
Dimanakah gerangan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia ?
Dimanakah gerangan Persatuan Buruh Seluruh Indonesia ?
Dimanakah gerangan Federasi Buruh Seluruh Indonesia ?
Lalu,
Ada apa gerangan dengan International Labour Organization ?
Ada apa gerangan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi ?
Pendek kata, tentu saja… “Ada apa sebenarnya dengan Indonesia? ”

Semua “ada apa” dan “dimanakah” diatas  akan kita coba telusuri untuk cari tahu, mungkin jawabannya bisa kena dihati, atau bisa jadi “empet” dihati.

Tenaga Kerja Indonesia / Buruh Migran Indonesia, adalah manusia Indonesia, Rakyat Indonesia, yang rela berkorban bekerja dirantau orang, jauh dari sanak keluarga, jauh dari teman serta sahabat, jauh dari Pemerintah atau Polisi yang idealnya jadi “Pengayom”, “Pelindung” dan “Pelayan” masyarakat ( karena tentu saja teorinya kan para pejabat maupun aparat birokrasi itu “dibayar” oleh Rakyat melalui uang Pajak ), mereka bekerja ke luar negeri “dengan penuh pengorbanan” semata mata untuk mendapat upah berupa Dollar, Real, Dinnar, Yen, Pound, Gulden, Won, dlsb, artinya mereka bisa dikatagorikan sebagai “Pahlawan Devisa”, seperti sering didendangkan oleh para petinggi negeri atau para politisi, terutama ketika masa kampanye, dalam upaya mengambil hati rakyat, mengeruk suara rakyat, melalui berbagai senandung indah dengan alunan seruling “Penakluk Sukma” dalam lagu “Tipu Muslihat”.

Tiba tiba, enggak ada hujan enggak ada angin, “ujuk ujuk” KTKLN menyambar bagai Petir menggelegar disiang bolong, semua orang teriak, semua orang kaget, ada yang bengong kayak kesambet, diusap setan genderuwo, ada yang terseok seok kayak orang kurus abis dihantam pukulan Mike Tyson, terasa bengis, hingga sesak dada, susah nafas, tapi hidup harus terus berlanjut, apa hendak dikata, nasib buruk kadang tidak disangka, yang maha kuasa di BNP2TKI sudah bersabda, buruh tidak boleh nyaman, dengan hilangnya Aturan bebas Fiskal bukan berarti Buruh enak enak aja lenggang kangkung keluar negeri, eit…tunggu dulu, bayar dulu, di terminal bus aja Preman bisa dapet “nge-mel”, masa di Bandara enggak…come on…yang bener aja….begitu kata hati sang penguasa, yang disambut kata setuju para konco dan teman sejawat, sesama birokrat yang merasa kuasa, cari dana kiri-kanan, bagai preman jalanan yang cuman beda baju dan kedudukan, after all what the heck, money smells good, especially when it’s so easy to get, sure…why not ?

BNP2TKI adalah Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia…..wow…sounds great, apalagi disana ada tersirat dan tersurat istilah Perlindungan dan Penempatan…wah, rasanya sungguh mulia budi baik mu wahai tuan tuan yang ada di Lembaga Negara tersebut, saya berandai andai, apabila saya jadi seorang buruh migran, sudah barang tentu rasa nyaman dan aman akan saya dapatkan, karena ternyata Negara Indonesia yang kita cintai ini sangat perhatian kepada warganya, dengan memberikan “perlindungan” yang sangat dibutuhkan, masalah apapun jadi tidak masalah, karena kita sudah dilindungi Negara, dalam kenyataannya, apa bener tuh buruh migran sudah diberikan perlindungan ? mari kita tela’ah, yakni ketika buruh migran akan berangkat bekerja keluar negeri, tentu saja semua document yang dibutuhkan akan jauh lebih mudah didapat, karena berbagai kesulitan untuk mendapatkannya menjadi lebih mudah, apa bener tuh ?
Kemudian, ketika buruh migran kehilangan pekerjaan atau selesai kontrak kerja, sudah pasti BNP2TKI akan berusaha mencarikan pekerjaan buatnya, karena kan ada bidang Penempatan, jadi kita tidak perlu bingung, ada Badan Nasional yang akan mencarikan kita pekerjaan……apa bener begitu ?
Barangkali kalau kita tidur dan bermimpi, semua “apa bener tuh” diatas menjadi bagian yang sangat indah dari mimpi kita itu, tapi ketika kita terbangun dari tidur, kita mendapatkan kenyataan yang amat sangat “mengerikan”, semua jadi serba terbalik, kenyataan yang kita harapkan ternyata hanyalah angan angan, kosong melompong, hampa tak ada apa apa, yah….ternyata…cuman mimpi ! dan kita kaget luar biasa, manakala kita tahu kalau semua Perlindungan dan Penempatan itu pada kenyataannya hanyalah “ilusi” belaka, alih alih mudah ternyata susah, alih alih asik ternyata pahit, alih alih untung ternyata malah buntung !
Gak percaya ?, silahkan rasakan sendiri menjadi buruh migran, sebab apa yang terjadi ? ternyata kata kata saja gak cukup untuk mengungkapkan betapa perkara “Perlindungan dan Penempatan” hanyalah upaya mengeruk dana, dari para buruh migran yang telah bersusah payah menjual keringat, tenaga dan harga dirinya, mereka seakan terkena lintah penghisap darah yang menempel di kulit kusut, kusam dan pucat pasi.
Oh Tuhan, dimana gerangan hati nurani para penguasa negeri ini ? apakah masih ada sejumput harapan bagi para buruh migran mendapatkan keadilan dan kesempatan, sehingga jauhpun bekerja tinggalkan keluarga tercinta menjadi tidak sia sia.

Sehingga gelar “Pahlawan Devisa” itu pun menjadi tulus sebagai Penghargaan bermakna dari Bapak bapak penguasa Negara ini dan juga dari segenap rakyat Indonesia melalui Perwakilannya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat yang membanggakan.
They are deserved to have compliment as prestigious as the nobel prize, why not….ya betul…why not ?, kenapa tidak ?
Maka serempak para buruh migran itupun bernyanyi bak paduan suara…..”Itulaaaaaahh..Indoneeeesia..Raaayaaaaaaa…..!!!
Dan dengan gagah dan bangga, berkibarlah Sang Saka Merah Putih….. walau cuma setengah tiang.
Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia…….May it rests in peace.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

So what gitu loh

Hidup bagai roda berputar, kadang dibawah, kadang diatas, semakin jauh melaju semakin kelihatan bekasnya, tidak bisa dipungkiri kalau suara derak roda membuat hati terenyuh, kadang malah mengganggu, tapi,  so what gitu loh.

Roda City Bank berputar terus, sang waktu berlomba dan bercanda dengan keniscayaan, ketika Malinda Dee dengan ramuan kecerdasan dicampur buah pepaya besar telah melumpuhkan keperkasaan para pengusaha papan atas termasuk pejabat dengan beberapa bintang dipundak, rasanya miris kata untuk bicara, kelu hati merasakan betapa roda berputar menggiring berbagai ironi dinegeri sejuta harapan, antara kemajuan atau keruntuhan, terselubung kemunafikan, hari hari terus berlari, roda berputar tak kenal henti, sambil berlalu menggilas kanan kiri, so what gitu loh.

Roda Dewan Perwakilan Rakyat juga berputar, meluncur deras kepermukaan, menggapai ketinggian awan, menuju para dewa bersemayam, sedikit hampir sampai, berhasil membangun gedung mewah bertingkat, dibangun dari pundi uang rakyat, satu koma tiga triliun tidak masalah, karena ini urusan para dewa, bukan urusan manusia, jadi tidak perlu manusiawi, semakin tinggi semakin nyaman,  jauh dari berbagai gangguan yang datang, rakyat kelaparan atau bencana berguncangan, so what gitu loh.

Roda pelaut terantuk di Somalia, ketika wajah wajah sangar acungkan senjata, semua tak berdaya, semua sirna ditelan kekerasan dan kekuasaan, antara perompak yang kompak dan mangsa empuk berpaspor Indonesia, menyerah tak berdaya, juga ketika berita sampai kepada sang penguasa negara yang biasanya gagah perkasa, kini seakan ayam jago kehilangan taji, atau seperti pendekar terkena pukulan sindrom parkinson, yang hilang selera untuk bertarung demi martabat bangsa, mereka malah berkata, so what gitu loh.

Roda berputar di Lembaga Peradilan, ketika para pakar hukum kembali duduk memperbincangkan, apakah Antasari azhar patut dipersalahkan, apakah Antasari Azhar benar benar orang dengan hati dingin menghabisi nyawa rekan seperjalanan, yang sama sama menikmati belaian asmara seorang cady bercadar misteri, yang ketika tongkat diayun semua mengarah pada satu lobang, permainan golf memang bergelimang issu, kadang ada hasutan, bujukan atau rayuan, diantara lobi lobi dan lobang lobang, sehingga urusan lobang golf pun bisa menjadi lobang kubur, tentu beda ukuran, walau serupa tapi tak sama, namun demikian, so what gitu loh.

Roda berputar dari Gorontalo ke ibu kota, melewati selat serta samudera dan bermil mil jalan raya, semua terpana ketika seringai wajah seorang briptu mendadak sontak menjadi seorang Norman bertabur bintang, hanya karena isengnya you tube, telah merubah wajah, dari hitam kusam menjadi putih berkilau cahaya, dari seorang yang bukan siapa siapa, menjadi oh siapakah dia, goyang lagu india ternyata membawa berkah, bukti dari ketiadaan menjadi keadaan, keadaan nasib yang telah berkenan memberikan semua keniscayaan, sehingga, so what gitu loh.

Roda kehidupan pun terus berjalan, seiring waktu yang berdetak detak, selaras urat nadi yang berdenyut denyut, sang kepala yang telah sekian lama diatas semakin membesar sedangkan telapak kaki yang selalu dibawah semakin menciut, hidup memang anekdot, diantara senda gurau dan desing peluru, yang terus menerus melontarkan pujian sekaligus makian, tetapi, so what gitu loh.

Bintaro, 20 April 2011

Deddy Herfiandi

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Indonesia Raya

Indonesia, sebagai negara maritim yang luas wilayahnya sebagian besar terdiri dari lautan, dengan jumlah penduduk 200 juta lebih, memiliki sejarah kelautan yang cemerlang dalam rentang waktu ratusan tahun, sejak armada gajah mada yang demikian disegani, wilayah ekonomi pelayarannya sedemikian luas, dari Madagaskar sampai Australia dan Grand Circle Pacific, dengan kekuatan kapal tradisional yang jauh dari modern tetapi pengetahuan nauticalnya luarbiasa, melampaui berbagai keterbatasan, sehingga kekaguman kita akan semangat yang demikian besar, dibentuk dari karakter yang kuat dan berani, memberi kesan, bahwa memang seharusnya bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang besar dan disegani, apalagi kalau kita renungkan, berbagai kejayaan masa lalu, dimana bisa kita baca dari peninggalan2nya yang begitu “mewah” seperti, Candi Borobudur, Prambanan, Roro Mendut, Candi Cangkuang, Mulawarman, Kutai, Sriwijaya dan lain lain, semua itu tentu ada benang merahnya dan kisah sejarah ini tentu bukan hasil “sim salabim” yang hanya terjadi dalam sekejap tetapi merupakan hasil kerja keras dan perjuangan yang luar biasa dan berkesinambungan, berbagai kejayaan, berbagai kebanggaan masa lalu itu tentu saja merupakan cikal bakal dari berbagai peristiwa kemudian.

Kini timbul pertanyaan, mengapa sejarah yang demikian hebat itu tidak menyisakan benih yang seharusnya tumbuh subur di negeri yang kaya akan sumber alam serta budayanya ini, mengapa kejayaan sejarah tidak menjadi motivasi kuat bagi puluhan, ratusan bahkan jutaan manusia keturunan Sang Maha Patih Gajah Mada yang legendaris itu, berbagai “mengapa” menjadi pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab, apakah karena penjajahan yang begitu lama sehingga jiwa patriotisme bangsa Indonesia ini seakan mati rasa ?, kebanggaan sejarah sirna karena terlalu lama mati suri,  dari bangsa “penguasa” menjadi bangsa “koeli” yang rendah diri, menjadi “inlander” yang tidak bisa lagi berpikir atau berbuat sesuatu untuk meneruskan kejayaan nenek moyangnya ?.

Coba kita simak perilaku bangsa kita yang susah untuk bersatu ini, yang selalu kepayahan ketika harus unjuk prestasi, contoh pada bidang olah raga, ketika Indonesia harus berlaga pada persaingan internasional seperti Olimpiade, kita hanya bisa berprestasi pada bidang olah raga individu seperti bulu tangkis, panahan atau selancar angin saja, tetapi pada bidang olah raga yang memerlukan kekompakan team seperti sepak bola, Basket ball atau Volly ball, kita selalu terpuruk ditingkat awal, untuk bersaing ditingkat pinggiran pun biasanya Indonesia akan langsung rontok, “dibantai” bangsa yang jumlah penduduknya mini seperti Singapore, Malaysia atau Philippine, ini sungguh mengherankan, bagaimana tidak, sebagai bangsa yang jumlah penduduknya demikian besar dan dengan kejayaan sejarah yang luar biasa ini, kita begitu susah berlomba, bersaing atau berprestasi apalagi untuk menjadi juara.

Walaupun demikian, mungkin harus kita akui bahwa dalam keterpurukan prestasi seperti sekarang ini, ternyata masih ada prestasi bangsa yang cukup membanggakan yaitu kita telah berhasil mengirim TKW dengan jumlah yang begitu besar ke negara negara yang membutuhkan bantuan tenaga kerja wanita, sehingga bidang “jongos” atau “babu” ini telah berhasil menyumbangkan devisa yang cukup besar untuk negara tercinta ini,  demikian pentingnya urusan TKW ini sehingga ada Badan Nasional khusus untuk menangani urusan yang satu ini, luar biasa !

Boleh juga kita “bangga” ketika para TKW yang sudah berprestasi ini, kadang dengan begitu tabah dan kuat menjalani “penyiksaan” atau “pelecehan” berskala internasional, ketika mereka pulang kampung pun, mereka masih harus “berjuang”menghadapi cobaan2 lain berupa “penipuan” berkedok pelayanan, yang dilakukan baik oleh orang2 yang berseragam ataupun para preman, yang senantiasa berusaha “membantu” mereka, mulai dari bandara kedatangan sampai perjalanan menuju kampung halaman.

Untuk semua “prestasi” itu, haruskah kita menaikan sang saka merah putih seraya menyanyikan lagu kebangsaan kita, karena hanya itulah yang masih tersisa dalam hati, Indonesia Raya… merdeka…. merdeka….. hiduplah Indonesia Raya !

Ciledug, 19 April 2011

Deddy Herfiandi

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Secuil nutrisi buat cruise line job seekers

Tips untuk para calon pelaut yang akan melamar pekerjaan melalui International Cruise Line’s Hiring Partner : PT. Ratu Oceania Raya (www.ratuoceaniaraya.com), untuk bekerja di

1. Royal Caribbean Cruise Line    2. Celebrity Cruises   3. Azamara Cruises   4. Disney Cruise Line   5. Apollo Ship Chandlers

Adalah sebagai berikut :

1. Pastikan umur anda sudah 21 tahun waktu melamar pekerjaan sebagai pelaut, karena sesuai peraturan IMO ( International Maritime Organisation ), umur minimum pekerja pelaut adalah 21 tahun.

2. English : Mempunyai kemampuan berbicara dalam Bahasa Inggris dengan baik, aktif dan komunikatif, ada nilai tambah bagi yang telah memiliki sertifikat Marlins Test dengan nilai minimum : 75

3. Experience, Skill and Knowledge : Mempunyai Pengalaman di hotel bintang 5 atau 4 rata2 selama 2 tahun, atau lulusan sekolah perhotelan dengan jurusan khusus seperti, Kitchen/Culinary/Tata Boga, Food&Beverage Service, House Keeping, Front Office, lebih specific lagi, Pastry, Pantry, Butchery, Bakery dan Kitchen Artist.

4. Appearance : Berpenampilan menarik, mengerti cara berpakaian (dress code) dan cara menata rambut sesuai Grooming Standard, Bersih dan Rapih, mengetahui Standard Hygenne and Sanitation, mengetahui cara merawat gigi yang baik, merawat kulit serta tidak bau badan

5. Attitude : Berperilaku baik, sopan dan ramah serta dapat bergaul dengan orang lain, respect terhadap perbedaan kewarganegaraan, perbedaan budaya, adat istiadat, warna kulit, suku, agama dan latar belakang sosial

6. Berbadan sehat dan berperilaku sehat, tidak suka mabuk atau melakukan tindak pidana, serta tindakan2 lain yang bersifat merugikan orang lain termasuk bicara kasar atau kurang sopan.

7. Tidak sedang berurusan dengan fihak berwajib, baik secara sosial, kriminal, keamanan, ataupun urusan politik.

8. Proses Melamar pekerjaan Tidak melalui Perantara, Calo atau Broker, yang akan membuat biaya proses menjadi berlipat lipat dan secara moril, materil juga secara hukum, sangat merugikan, baik untuk kandidat maupun Hiring Partner, karena biasanya ada unsur penipuan.

9. Mulailah mengunjungi situs situs yang berguna dalam menambah wawasan pengetahuan tentang Pekarjaan atau juga perusahaan yang dituju, website penting adalah : www.ratuoceaniaraya.com, www.rccl.com, www.celebritycruises.com, www.azamaracruises.com, www.dkmagz.com, www.disneycruise.com, www.apolloshipchandlers.com

10. Jangan Resign dari perusahaan, sampai ada keputusan pengangkatan (hired), cleared travel documents, Visa, Medical, Letter of employment, cleared Ticketing, dan semua prosedur keberangkatan join kapal sudah mendapat kepastian ( Konfirmasi join kapal ).

11. Ratu Oceania Raya is committed to quality and equality, menerapkan policy No Fee No Charge No Commission, jadi silahkan melamar pekerjaan dengan melengkapi semua documents yang diperlukan, juga  persiapkan mental serta skill and Knowledge serta kemampuan kerja yang benar2 tangguh sehingga siap berprestasi dan berkompetisi dengan bangsa lain.

12. Berusaha dengan cepat untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan suasana baru, tidak cepat menyerah, dan siap untuk hidup jauh dari keluarga selama masa kontrak, rata2 8 bulan.

13. tunduk kepada semua peraturan, baik di darat maupun dilaut

14. Tunduk kepada perintah atasan dan siap untuk selalu bersikap penuh disiplin, serta menhormati teman kerja

15. Sanggup menjaga kesehatan serta keselamatan kerja, juga sanggup menjaga keselamatan orang orang disekeliling pekerjaan, termasuk para tamu kapal

Bintaro, April 12, 2011

Deddy Herfiandi

Posted in Uncategorized | Leave a comment

“Ketika kita”

Ketika kita kecil di sekolah taman kanak kanak, disamping belajar bernyanyi kita juga belajar tentang panca indera dan anggota tubuh serta fungsinya, seperti mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk bicara, hidung untuk mencium, tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan dan sebagainya.

Ketika badan mulai tumbuh, kaki mulai panjang, badan dan kepala mulai besar, bangga  memakai seragam, senang bisa berkumpul teman sebaya, dengan penuh semangat kita bangun tidur pagi pagi, kemudian mandi dan gosok gigi lalu sarapan pagi, kita pun mulai mengenal arti dari Empat Sehat Lima Sempurna.

Kemudian  di Sekolah Dasar, kita mulai belajar membaca, menulis, serta berhitung, dari hitungan tambah, kurang, kali dan bagi

kita pun mulai tahu, walau kurang faham, apa arti Panca Sila serta Bhineka Tunggal Ika, juga Mensana in corpore Sano, sebab, ketiga tiganya dengan bingkai yang bagus dan indah, menjadi hiasan dibanyak kelas disetiap sekolah.

Di Sekolah Menengah Pertama, mulailah kita tahu bahwa Rajin itu Pangkal Pandai dan Hemat Pangkal Kaya, suara pun mulai parau karena pertumbuhan anggota tubuh yang luar biasa dan menyeluruh, termasuk jerawat yang mulai nakal, membuat wajah dan penampilan menjadi lain, banyak perasaan yang dulu tidak pernah dirasakan, kini mulai menampakan diri, kadang ada rasa suka, rasa sedih, bahagia, frustasi, kesal, kagum, galau, kawatir, semua  bermunculan, termasuk rasa tembakau, rasa coca cola dan tentu saja, rasa asmara.

Memasuki usia Sekolah Menegah Atas, semua terasa jauh berbeda, karena diusia inilah kita mulai belajar dewasa, dalam arti yang sesungguhnya, mencoba ini mencoba itu, cipika ini cipiki itu, ceplas sana ceplos sini, kiri kanan atas bawah pokoknya semua dicoba, sampai kita tiba dipersimpangan jalan, dan ini krusial, sebab ada begitu banyak jalan yang harus dipilih, jalan yang benar, jalan yang salah atau jalan yang sedang sedang saja, juga jalan yang lurus, yang bengkok, yang curam, yang terjal, yang rata, yang bergelombang, atau malah ada juga jalan yang buntu, dan kita hanya boleh memilih salah satu jalan saja, tentu saja kita tidak pernah tahu apakah jalan yang kita ambil itu jalan yang pendek atau panjang, dan apakah kita sudah benar dengan keputusan kita untuk mengambil jalan yang baik dan benar bukan jalan pintas dan menyesatkan.

Kuliah kemudian menjadi pengukuhan, dari keputusan kita sebelumnya, semua energy bermuara disini, inilah akhir dari perjalanan awal dan awal dari perjalanan akhir, selama hayat dikandung badan,  maka merah akan menjadi merah, kuning akan menjadi kuning, hijau akan menjadi hijau dan biru akan menjadi biru, aneka warna warni menjadi hiasan hidup sehari hari, pilihan mulai bergeser dari jalan jalan menjadi warna warna, dan tentu saja hidup mulai terkotak kotak, yang kurang beruntung malah mulai terkoyak koyak.

Kini, pintu gerbang Dunia Kerja mulai terbuka, dengan langkah tegap kita masuki ruang ruang yang ada, dihadapkanlah kita pada pilihan pilihan, ternyata, ruang ruang yang harus kita pilih itu tidak ada yang sama, dalam ukuran maupun aromanya.

Sekarang, kita mulai banyak berhitung, sayangnya, kebanyakan kita hanya bisa melakukan hitungan tambah dan kali, sedangkan kurang dan bagi sangatlah jarang, malah hampir tidak pernah dilakukan.

Sekarang, kita pun mulai banyak bernyanyi, sayangnya, nyanyian yang kita nyanyikan hanyalah nyanyian sunyi, yang hanya kita sendiri, yang bisa mendengar, yang bisa mengerti. sedang orang lain punya nyanyian sendiri, bernyanyi sendiri didengar sendiri, masing masing didunianya sendiri sendiri, dunia tanpa ekspresi, tanpa basa basi, apalagi apresiasi.

Ciledug, 12 April 2011

Deddy Herfiandi

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Wajah Kita

Semerawutnya lalu lintas di Jakarta dan juga di hampir semua kota kota besar di Indonesia kadang membuat pusing kepala, stress dan mudah membuat naik darah, juga bisa malah sebaliknya, sikap masa bodoh, apatis atau skeptis, seolah semerawutnya lalu lintas tersebut telah menjadi cermin atau gambaran sikap dan kepribadian bangsa ini secara keseluruhan.

Melihat fenomena tersebut, barangkali kita menyadari, betapa kita ini, sebagai bangsa yang besar, telah mencerminkan diri sendiri sebagai bangsa yang tidak suka mengikuti aturan, baik aturan lalu lintas yang sederhana,  juga aturan aturan lain yang bersifat umum, seperti Antre, buang sampah pada tempatnya, dlsb, kita bisa menilai diri sendiri bahwa secara sadar, kita telah berkembang menjadi bangsa yang sembrono, acuh tak acuh, yang begitu egois dan sangat mementingkan diri sendiri, bersikap masa bodoh dengan orang lain, yang penting sendiri senang, tidak peduli orang lain menjadi susah karenanya.

Hal tersebut diatas semoga menjadi otokritik, yang sebenarnya harus jadi bahan renungan dan segera mulai memperbaiki diri, namun demikian, mari kita coba tela’ah, apakah hal ini akan kita biarkan dan kemudian kita akan melihat bagaimana jadinya masa depan bangsa yang kita “cintai” dan kita “banggakan” ini, apabila kita sama sekali tidak berusaha untuk memperbaiki diri ?, dimana peran Pendidikan ?, baik Pendidikan formal sekolah juga Pendidikan Agama, atau Pendidikan Moral yang dicontohkan orang tua kepada anak-anaknya ?

Sebagai mahluk sosial, manusia ditakdirkan untuk hidup dalam suatu komunitas, dimana satu sama lain harus saling bekerja sama, karena satu sama lain saling membutuhkan,  kita menyadari, bahwa kita hidup ini tidak sendirian, dalam berbagai dimensi sosial, kadang kita sering merasa harus bergantung pada figur seseorang, seorang pemimpin misalnya, nah dalam situasi yang terjadi seperti sekarang ini, muncul pertanyaan sangat sederhana, yaitu : “dimana Sang Pemimpin kita itu ?”, atau, “adakah seseorang, diantara berjuta juta orang Indonesia ini, yang kelak akan muncul menjadi seorang Pemimpin atau seorang negarawan, yang akan mampu menjadi Panutan bagi berjuta umat manusia Indonesia yang “semerawut dan susah diatur” ini ?”.

Memang, kita telah mengalami dalam arti “menikmati” atau sebaliknya, “menderita”, ketika kita dipimpin oleh beberapa Pemimpin bangsa ini dimasa lalu, masa masa dibawah kepemimpinan seorang “Pemimpin Revolusi”, kemudian seorang “Bapa Pembangunan”, kemudian seorang “Professor”, kemudian seorang “Budayawan”, kemudian seorang “Pro Rakyat” dan sekarang, seorang “Jendral Doktor yang Santun”.

Silahkan anda bebas menilai sendiri, bagaimana baik atau buruknya prestasi para pemimpin kita tersebut sesuai pengalaman pribadi masing masing, hanya saja, pada kesempatan ini, kita tidak akan mengritik berbagai kebijakan, Instruksi atau Eksekusi dari Undang undang yang telah dilaksanakan oleh semua Pemimpin tersebut diatas, tetapi kita hanya akan “secara sederhana” mempertanyakan, bagaimana mereka melihat hasil karya kepemimpinannya “hanya” menjadi sesuatu yang seolah sia sia, terutama ketika kita bicara Moral Bangsa atau Budaya Bangsa dalam menyikapi dan melaksanakan Peraturan sehari hari, salah satunya, misalnya, Peraturan Lalu lintas ?

Kembali ke habitat asli kita yaitu “Dunia Kerja”, Sudah seharusnya kita bertanya kepada diri kita sendiri, “sudahkah kita mengikuti peraturan perusahaan dengan sungguh sungguh ?”, rasanya “surit” (baca:Sulit) untuk dipercaya…..!”, begitu kemungkinan jawaban orang Jepang kalau ditanya, karena jangankan dibanding dengan semangat “Bushido”nya mereka dalam bekerja, dibanding bangsa Jiran yang serumpun pun, mereka akan bilang “… kenapa orang Indon(esia), kalau bekerja kok lebih “Melayu” dari orang Melayu sendiri”, (“melayu”=menjadi layu)….apa salah keturunan atau memang salah urus ?.

Saya rasa hanya anda sendiri yang akan bisa menjawabnya, atau kita biarkan saja, serahkan saja pada Sang Nasib yang akan mengurusnya.

Bintaro, 25 Maret 2011.

Deddy Herfiandi

Posted in Uncategorized | 2 Comments